Prabowo Ekspor Listrik ke Singapura, Rakyat Indonesia Sudah Benar-Benar Kelebihan Listrik?

by -198 Views
Rencana Prabowo Ekspor Listrik ke Singapura
Rencana Prabowo Ekspor Listrik ke Singapura

Pemerintah memang sering menyebut Indonesia mengalami surplus daya.

Namun surplus pembangkit tidak otomatis berarti seluruh Indonesia kelebihan listrik. Di dunia kelistrikan, surplus di satu sistem tidak selalu bisa dikirim ke pulau lain yang berbeda jaringan. Sistem Jawa-Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua masih banyak yang berdiri sendiri dan belum sepenuhnya terhubung.

Karena itu, ekspor listrik sebaiknya dilakukan setelah kebutuhan domestik benar-benar aman.

Bukan hanya aman di atas kertas, tetapi juga dirasakan masyarakat. Jangan sampai Indonesia menjadi pemasok listrik bagi negara lain, sementara sebagian rakyatnya masih menghadapi pemadaman, tegangan yang tidak stabil, atau akses listrik yang belum memadai.

Ada satu hal lagi yang patut dipikirkan.

Singapura membeli listrik bukan karena kasihan kepada Indonesia. Mereka membeli karena secara ekonomi menguntungkan bagi mereka. Sebagai negara kecil dengan keterbatasan lahan, mengimpor energi bisa lebih efisien dibanding membangun seluruh kapasitas pembangkit sendiri.

Prabowo Ekspor Listrik ke Singapura

Karena itu, Indonesia juga harus berpikir sebagai penjual yang cerdas.

Harga jual listrik tidak boleh sekadar lebih murah dari biaya produksi. Harus dihitung biaya investasi pembangkit, transmisi, penyimpanan energi, pemeliharaan jaringan, risiko pasokan, hingga keuntungan jangka panjang bagi negara. Jangan sampai kita menjual murah aset strategis hanya demi mengejar angka ekspor.

Pemerintah menyebut kerja sama ini sebagai win-win solution.

Kalimat itu bisa benar, tetapi syaratnya jelas. Indonesia harus menjadi pihak yang memperoleh keuntungan maksimal, bukan hanya menjadi penyedia energi murah bagi negara tetangga.

Kalau saya menjadi Presiden Prabowo, prioritas saya sederhana.

Saya akan memastikan dulu tidak ada lagi pemadaman yang merugikan masyarakat dan industri. Saya akan memastikan desa-desa terpencil menikmati listrik yang andal. Saya juga ingin industri dalam negeri memperoleh pasokan energi yang cukup untuk mendorong hilirisasi dan menciptakan lapangan kerja.

Setelah semua kebutuhan itu terpenuhi, barulah ekspor listrik menjadi langkah yang tepat.

Karena ukuran keberhasilan sebuah negara bukanlah seberapa banyak listrik yang dijual ke luar negeri, melainkan seberapa besar manfaat listrik itu lebih dulu dirasakan oleh rakyatnya sendiri.