Kementan Dorong Pengembangan Gula Tumbu, Solusi Saat Kapasitas Pabrik Tebu Masih Terbatas

by -30 Views
Pabrik Tebu

REMBANG, Perdana.Asia – Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong pengembangan gula tumbu sebagai alternatif hilirisasi tebu di tengah meningkatnya produksi nasional. Langkah ini dinilai mampu memberikan nilai tambah bagi petani sekaligus menjadi solusi ketika kapasitas pabrik tebu belum mampu menyerap seluruh hasil panen.

Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Abdul Roni Angkat, mengatakan pemerintah saat ini fokus mewujudkan swasembada gula nasional. Seiring meluasnya areal tanam tebu sejak 2025, diperlukan berbagai alternatif pengolahan hasil panen agar tidak seluruhnya bergantung pada industri gula kristal putih.

“Petani menyampaikan bahwa selain diolah menjadi gula kristal putih, tebu juga memiliki potensi diolah menjadi gula merah tebu atau gula tumbu yang memiliki nilai ekonomi,” ujar Abdul Roni saat melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Minggu.

Dalam kunjungan tersebut, Abdul Roni meninjau langsung sentra pengolahan gula tumbu milik mitra petani Koperasi Perwira Cipta Mandiri (KPCM) di Desa Gegersimo, Kecamatan Pamotan.

Gula Tumbu Jadi Alternatif Saat Pabrik Tebu Belum Mampu Menyerap Produksi

Menurut Abdul Roni, keberadaan industri gula tumbu dapat menjadi solusi sementara di berbagai daerah yang kapasitas pabrik tebu masih terbatas. Kondisi tersebut membuat sebagian hasil panen belum dapat langsung diproses menjadi gula kristal putih.

“Tidak semua hasil tebu bisa langsung masuk ke pabrik gula karena kapasitasnya masih terbatas. Sambil menunggu pembangunan pabrik baru, gula tumbu menjadi alternatif yang memiliki pasar cukup baik, termasuk untuk kebutuhan industri kecap,” katanya.

Ia menilai diversifikasi produk olahan tebu dapat memperkuat rantai hilirisasi sekaligus menjaga stabilitas pendapatan petani ketika musim panen berlangsung.

Standar Higienitas Menjadi Prioritas

Meski mengapresiasi inovasi petani dalam mengembangkan gula tumbu, Kementerian Pertanian menegaskan bahwa peningkatan standar higienitas harus menjadi perhatian utama apabila produksi terus ditingkatkan.

Pemerintah pusat bersama pemerintah provinsi dan kabupaten diharapkan dapat memperkuat pembinaan agar proses produksi memenuhi standar keamanan pangan sehingga produk gula tumbu memiliki daya saing lebih tinggi di pasar.

Petani Berharap Kesiapan Pabrik Tebu Ditingkatkan

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, mengatakan kunjungan Direktorat Jenderal Perkebunan diharapkan menjadi dasar penyusunan kebijakan yang lebih berpihak kepada petani.

Menurutnya, persoalan terbesar yang dihadapi petani saat ini bukan hanya peningkatan produksi, tetapi juga kesiapan pabrik tebu dalam menyerap hasil panen secara maksimal.

Produksi tebu di Rembang diperkirakan terus meningkat melalui program bongkar ratoon. Namun apabila kapasitas pengolahan belum bertambah, petani dikhawatirkan kesulitan memasarkan hasil panennya.

“Ketika produksi meningkat tetapi pabrik gula belum siap menyerap seluruh hasil panen, tentu akan menjadi persoalan. Karena itu pengembangan gula tumbu menjadi salah satu alternatif yang cukup menjanjikan,” ujarnya.

Rembang Bidik Jadi Sentra Tebu Jawa Tengah

Pemerintah Kabupaten Rembang menargetkan daerahnya menjadi salah satu sentra produksi tebu di Jawa Tengah. Saat ini luas areal tanaman tebu mencapai sekitar 8.000 hingga 9.000 hektare dan ditargetkan meningkat menjadi 10.000–12.000 hektare.

Peningkatan luas tanam tersebut diharapkan menjadi syarat utama agar Rembang dapat memiliki pabrik tebu atau pabrik gula sendiri di masa mendatang.

Selain pembangunan industri pengolahan, pemerintah daerah juga berharap adanya kepastian harga tebu, peningkatan rendemen, serta tambahan dukungan sarana produksi seperti pupuk dan benih.

Pada 2026, Kabupaten Rembang memperoleh program bongkar ratoon seluas sekitar 1.900 hektare dengan bantuan sekitar 60 ribu mata tunas serta anggaran mencapai Rp3,6 miliar.

Modernisasi Peralatan Dibutuhkan

Pemilik sentra pengolahan gula tumbu sekaligus mitra petani KPCM, Syued Hasyim, mengatakan usaha yang telah dirintis sejak 2004 masih bertahan sebagai salah satu sentra gula merah tebu di Kecamatan Pamotan.

Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah proses produksi yang masih menggunakan peralatan konvensional sehingga sangat bergantung pada kondisi cuaca.

“Kalau musim hujan produksi sangat terganggu. Kami berharap ada modernisasi alat agar biaya operasional lebih efisien dan dapat menggunakan bahan bakar alternatif,” katanya.

Pengembangan teknologi pengolahan dinilai menjadi langkah penting agar industri gula tumbu mampu berkembang lebih modern sekaligus mendukung program swasembada gula nasional yang tengah didorong pemerintah.