Oleh Bang Enyoi | Save Jabar
Ketika dolar Amerika menembus kisaran Rp18.025, sebagian besar masyarakat tentu merasa waswas. Harga barang impor berpotensi naik, biaya produksi meningkat, dan tekanan terhadap ekonomi semakin terasa. Data pasar valuta asing bahkan menunjukkan USD/IDR sempat menyentuh level sekitar Rp18.015 dalam beberapa hari terakhir.
Namun di tengah kekhawatiran itu, ada satu kelompok yang diam-diam ikut menikmati penguatan dolar: para konten kreator.
Mengapa?
Karena sebagian besar platform digital global membayar kreatornya dalam mata uang dolar Amerika. YouTube melalui Adsense menggunakan standar pembayaran dolar. Begitu pula banyak program monetisasi internasional lainnya. Bahkan sebagian kreator Facebook Pro juga memperoleh pendapatan yang nilai dasarnya mengikuti kurs dolar.
Dulu ketika kurs masih Rp15.000 per dolar, kreator yang mendapatkan penghasilan USD1.000 per bulan menerima sekitar Rp15 juta.
Hari ini, dengan kurs mendekati Rp18.000, penghasilan yang sama bisa bernilai sekitar Rp18 juta.
Tanpa membuat video tambahan. Tanpa menambah subscriber. Tanpa menambah jam tayang.
Hanya karena kurs berubah.
Kenaikan sekitar Rp3.000 per dolar berarti tambahan sekitar 20 persen dibanding beberapa tahun lalu. Bagi kreator yang rutin menerima USD500, USD1.000, bahkan USD5.000 per bulan, selisihnya sangat terasa.
Inilah yang sering tidak disadari banyak orang.
Ketika rupiah melemah, eksportir memperoleh keuntungan karena menjual barang dengan pembayaran dolar. Hal yang sama juga dialami kreator digital. Bedanya, yang mereka ekspor bukan batu bara, sawit, atau nikel.
Mereka mengekspor konten.
Video yang ditonton di Amerika, Eropa, Timur Tengah, atau negara lain pada dasarnya menghasilkan devisa digital. Uang masuk dari luar negeri lalu dikonversi menjadi rupiah yang nilainya lebih besar.
Karena itu, profesi konten kreator hari ini sebenarnya sudah masuk kategori ekonomi ekspor modern.
Tidak perlu pabrik.
Tidak perlu kapal.
Tidak perlu gudang.
Cukup kamera, internet, kreativitas, dan konsistensi.
Tentu saja ini bukan berarti rupiah lemah adalah kabar baik bagi Indonesia secara keseluruhan. Pelemahan rupiah tetap menimbulkan tekanan terhadap impor, utang luar negeri, dan inflasi. Banyak sektor yang justru merasakan dampak negatifnya.
Tetapi di tengah situasi tersebut, ada pelajaran menarik.
Di era ekonomi digital, seseorang bisa mendapatkan manfaat dari dolar tanpa harus bekerja di Amerika. Tanpa harus menjadi eksportir besar. Tanpa harus memiliki perusahaan multinasional.
Cukup menjadi kreator yang karyanya ditonton dunia.
Karena ketika dolar naik, yang tersenyum bukan hanya eksportir batu bara.
Kadang yang ikut tersenyum adalah YouTuber kampung, kreator Facebook Pro, editor video rumahan, dan anak muda yang setiap hari konsisten membuat konten dari kamar tidur mereka.
Hari ini, mereka tidak sedang menambang nikel.
Mereka sedang menambang dolar dari internet.






